#2 Perlengkapan

Sebagaimana dijelaskan pada bagian sebelumnya (Jemparingan | #1 Pengantar), jemparingan tradisional bandulan menggunakan gendewa untuk melontarkan jemparing dengan sasaran berupa bandul. Pada bagian ini akan dijelaskan peralatan apa saja yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan jemparingan tradisional bandulan.

Secara umum, peralatan yang digunakan dalam kegiatan jemparingan tradisional bandulan adalah:

1. Gendewa
2. Jemparing
3. Bandul

Gendewa

Bahan yang digunakan untuk membuat sebuah gendewa terdiri dari kayu, bambu dan tali (bs.Inggris: string, bs.Jawa: kendheng).

Bagian-bagian penting dari sebuah gendewa adalah:

1. Cengkolak (bs.Inggris: handle, bs.Ind: pegangan, grip) terbuat dari kayu keras yang relatif ringan, seperti sono-keling, sawo, glugu (batang kelapa) dan jenis kayu keras lainnya.

2. Lar (bs.Inggris: limb , bs.Ind: sayap) terbuat dari bambu kering dengan ruas yang cukup panjang (sekitar 50-60 cm). Terdiri dari dua bilah, bagian atas dan bawah. Bilah ini adalah bagian paling penting dari sebuah gendewo karena berfungsi sebagai pelontar jemparing.

3. Kendheng (bs.Inggris: string, bs.Ind: tali busur) terbuat dari polyster (Dacron B50), serat kevlar dan spectra . Saat ini bahan yang digunakan sebagai bahan pembuat kendheng masih merupakan material yang diimport dari luar negeri.

Gendewa dan b agian-bagiannya
Gendewa dan bagian-bagiannya

Jemparing

Bahan yang digunakan untuk membuat sebuah jemparing adalah bambu, besi, bulu unggas dan sedikit bahan plastik. Bagian-bagian penting dari sebuah jemparing adalah:

1. Deder (bs.Inggris: shaft, bs.Ind: batang) terbuat dari bambu berbentuk silinder berdiameter 50 – 57 mm dengan panjang berkisar antara 60 – 70 cm.

2. Bedor (bs.Inggris: arrow head, bs.Ind: mata panah) terbuat dari besi, berbentuk runcing.

3. Wulu (bs.Inggris: fletching, bs.Ind: bulu) terbuat dari bulu unggas, biasanya memanfaatkan bulu itik/entok.

4. Nyenyep (bs.Inggris: nock, bs.Ind: nok) terbuat dari bahan plastik, yang sampai saat ini masih diimport dari luar-negeri.

Jemparing dan bagian-bagiannya
Jemparing dan bagian-bagiannya

Bandul

Material bandul bisa sangat beragam. Namun bahan yang paling sering digunakan adalah jerami, lembar karet, busa dan kain untuk membungkusnya. Agar tidak mudah robek, kain biasanya diberi lapisan pengeras dengan lem kayu/kertas. Ukuran bandul yang biasa digunakan adalah bandul dengan ukuran panjang 30-33 cm dengan diameter 3.0 – 3.5 cm.

Bahan yang digunakan untuk membuat bandul
Bahan yang digunakan untuk membuat bandul

Bandul yang digunakan untuk jemparingan tradisional bandulan biasanya diberi warna merah di ujung atas (sekitar 5 cm) dan sisanya adalah putih.

Namun beberapa tradisi juga memberikan warna kuning (dengan lebar 1 cm) di antara warna merah dan putih serta warna hitam (dengan lebar 1 cm) di bagian bawah.

Warna pada bandulan memiliki penyebutan dan nilai yang berbeda.

1. Warna merah diberi nama molo, sirah (Ind: kepala) dan bernilai 3;
2. Warna kuning jika ada pada bandul diberi nama jonggo (Ind: leher) dengan nilai 2;
3. Warna putih diberi nama awak (Ind: badan) dan nilai 1;
4. Warna hitam jika ada pada bandul diberi nama bokong (Ind: pantat) dengan nilai -1;

Warna dan nilai pada bandul jemparingan
Warna dan nilai pada bandul jemparingan

Pemasangan Bandul

Bandul ini diletakkan sejauh 30 – 33 meter dari posisi pemanah dan menggantung setinggi 160 cm dihitung dari permukaan tanah hingga ujung atas bandul.

Untuk menahan laju jemparing yang tidak mengenai bandul, biasanya di bagian belakang bandul akan dipasang geber (bs.Ind: tirai) yang terbuat dari lembaran karet keras dengan ketebalan 0.8 – 1 cm.

Pemasangan bandul dan karet penahan jemparing (geber, tirai)
Pemasangan bandul dan karet penahan jemparing (geber, tirai)

Bagian berikutnya membahas event dimana pemanah-pemanah tradisi berkumpul, bersilaturahmi dan menguji kemampuannya: Jemparingan | #3 Gladhen Jemparingan