Jemparingan di Alun-alun Wates, Bidik Bandhul Bareng

0
277

Wates,(sorotkulonprogo.com)–Ada pemandangan berbeda di Alun-alun Wates pada Minggu (16/10/2016) pagi. Pasalnya terdapat puluhan orang yang mengenakan busana adat Jawa lengkap serta membawa gandewa dan busur panah.

Ternyata puluhan orang tersebut sedang mengikuti Gelar Jemparingan yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan Kulon Progo sebagai salah satu rangkaian acara peringatan HUT Kulon Ptogo ke-65.

Dijelaskan oleh ketua panitia sekaligus Sekertaris Dinas Kebudayaan Kulon Progo, Joko Mursito bahwa pelaksanaan Gelar Jemparingan ini adalah pertama kali setelah dilakukan sosialisasi Jemparingan yang dilaksanakan di Pengasih beberapa waktu lalu.

”Ini adalah pelaksanaan pertama Gelar Jemparingan setelah sosialisasi di Pengasih beberapa waktu lalu, pada hari ini ada sekitar 70 peserta yang turut mulai dari anak-anak hingga dewasa,” kata Joko, Minggu (16/10/2016).

Peserta Gelar Jemparingan kali ini terdiri dari 30 peserta Paguyuban Jemparingan Jati Kusumo, Kulon Progo serta 40 Paguyuban Jemparingan Langen Astra Yogyakarta.

Dilanjutkan Joko Mursito, Gelar Jemparingan pada kali ini adalah salah satu langkah uji coba dari Dinas Kebudayaan untuk melaksanakan kompetisi jemparingan.

”Kita memang merencanakan untuk mengadakan sebuah kompetisi jemparingan, maka dari itu kami menggelar acara tersebut sebagai media sosialisasi bagi masyarakat Kulon Progo, karena dalam jemparingan sangat berbeda dengan olahraga panahan,” katanya.

Jemparingan, menurut Joko adalah sebuah aktivitas yang lebih condong kepada unsur budaya ketimbang olahraga meskipun harus membutuhkan fisik yang benar-benar mampu karena setiap orang yang ingin melakukan jemparingan harus mengenakan pakaian adat Jawa.

Yang artinya bila memang akan ada sebuah kompetisi jemparingan, maka unsur-unsur penilaian utama adalah tentang bagaimana peserta mengenakan busana dengan benar, sikap duduk yang benar di samping ketepatan dalam membidik ”bandhul” atau sasaran jemparing.

Salah satu peserta Gelar Jemparingan, Ponang Merdugandang menyampaikan bahwa dirinya mulai tertarik dengan jemparingan sejak pertama kali melihat orang membentangkan gandewa dengan sikap duduk serta mengenakan busana adat.

”Saya tertarik dengan jemparingan karena ini adalah aktivitas yang dilaksanakan oleh Prajurit Keraton pada jaman dahulu, jadi apa salahnya ikut mencoba mengadu ketangkasan sambil melestarikan budaya,” katanya.

LEAVE A REPLY