Belajar Jemparingan, Teknik Perang Prajurit Mataram

0
481

Pengasih,(sorotkulonprogo.com)–Seni olahraga tradisional Jemparingan atau panahan prajurti Kerajaan Mataram kini mulai banyak diminati oleh masyarakat. Seperti yang terlihat di Lapangan Jati yang letaknya di Timur Perum BSA Pengasih, Pengasih, Kecamatan Pengasih. Puluhan warga begitu antusias mengikuti kursus cepat Jemparingan dalam sosialisasi Jemparingan oleh Dinas Kebudayaan Kulon Progo, Minggu (04/09/2016).

Dalam sosialisasi tersebut Dinas Kebudayaan Kulon Progo menghadirkan Paguyuban Jemparingan Langen Astra Yogyakarta untuk menyampaikan apa sebenarnya jemparingan tersebut. Plh Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo, Joko Mursito menyampaikan, acara tersebut merupakan acara pertama yang akan dijadikan batu loncatan untuk promosi wisata dan kebudayaan Kulon Progo.

”Awalnya jemparingan merupakan sebuah teknik perang yang hanya boleh dilakukan oleh prajurit Mataram, namun seiring berkembangnya jaman maka masyarakat bisa mengembangkanya sebagai sebuah olahraga,” tutur Joko, Minggu (04/09/2016).

Joko menambahkan bahwa nantinya ketika jemparingan sudah banyak diminati oleh banyak warga Kulon Progo, olahraga tradisional ini akan dijadaikan dalam sebuah kemasan promosi wisata dan kebudayaan bagi turis-turis melihat sebentar lagi bandara di Kulon Progo akan meningkatkan angka destinasi kunjungan.

Sementara itu, Hafiz Priantomo, salah satu pendiri Paguyuban Jemparingan Langen Astra menyampaikan bahwa untuk bisa membidik sasaran dengan gandewa dan busur khas prajurit Mataram ini perlu melalui beberapa tahap latihan meliputi latihan memegang gandewa, merentangkan string gandewa dan yang terakhir melepaskan busur panah.

”Untuk normalnya latihan jemparingan itu bisa sampai 2 bulan,” katanya.

Selain itu, hal yang unik dari Jemparingan ketimbang olahraga panahan adalah dimana para pemegang gandewa jemparing harus menggunakan pakaian adat Yogyakarta dan duduk bersila ketika membidik sasaran.

Gandewa dan busur jemparing, kata dia, berbeda dengan yang digunakan untuk olahraga panahan. Untuk gandewa Jemparing, bahan dasar terbuat dari kayu dan bambu yang tingginya dibuat sesuai dengan tinggi sang pemilik gandewa. ”Untuk gandewa biasanya memang dibuat sesuai dengan pemiliknya, karena setiap gandewa biasanya memiliki karakteristik yang sesuai dengan pemiliknya,” tambah Fauzi.

Untuk busur juga berbeda dengan yang digunakan dalam olahraga panahan. Busur Jemparingan terbuat dari bambu dengan diameter sekitar 0,5 cm yang pada ujungnya dipasang logam runcing agar bisa menancap pada sasaran.

”Untuk harga sendiri berfariatif mulai dari Rp 600 ribu hingga jutaan, namun untuk saat ini kita mulai mengembangkan produksi gandewa secara mandiri,” tutup Fauzi.

LEAVE A REPLY