Erosi budaya, anak muda semakin asing lupa jemparingan

0
255

Jogjakarta-KoPi | Salah satu rangkaian acara dari pameran DKV ISI Jogja mengadakan workshop Jemparingan Jawa di Benteng Vredeburg pukul 16.30 WIB.

Menurut pegiat Paseduluran Jemparingan Langenastro, Hafiz Priyotomo mengatakan jemparingan bagian kearifan lokal yang adi luhung. Tidak hanya menitikberatkan pada memanah saja namun kompleks melingkupi aspek budaya di baliknya.

“Jemparingan saat ini yang jadi bahasan tentang masalahnya, sejarah dan referensinya”, paparnya.

Jemparingan atau akrab dikenal dengan kegiatan pemanahan tradisi budaya semasa kerajaan Mataram. Semasa Mataram jemparingan menjadi hobi para keluarga kraton dan abdi dalem. Namun seiringnya perkembangan zaman telah bergeser yang bisa dinikmati oleh masyarakat secara umum.

Hafiz Priyotomo mengkritik dewasa ini budaya semakin tergerus oleh perkembangan zaman. Kondisi ini tidak serta merta menyalahkan anak muda yang buta budaya, kesalahan juga mengenai pada peran orang tua yang lalai meneruskan budaya yang ada.

“Budaya bisa menjadi dari tuntunan, tatanan dan tuntunan. Tetapi anak muda saat ini hanya mengambil tontonannya saja. Ini kita tidka bisa menyalahkan begitu saja. Adanya Erosi budaya disebabkan oleh banyak faktor dari globalisasi, teknologi, sosial-ekonomi, dan pragmatis”, paparnya.

Paseduluran Jemparingan Langenastro, Hafiz Priyotomo biasa mengadakan gladhen (latihan) pada Rabu Legi. |Winda Efanur FS|

LEAVE A REPLY