Jemparingan, Antara Meditasi, Silaturahmi dan Destinasi Wisata Panahan Tradisional Mataram

0
281

HarianBernas.com – Sekumpulan anak muda bersila 2 shaf barisan dalam keadaan tenang. Berpakaian surjan Jawa lengkap dan yang putri berkebaya. Mereka bak para Ksatria yang gagah dan Srikandi nan cantik.

Bersama menyiapkan Gandewa (busur panah tradisional) beserta anak panah dan memandang tajam tapi lembut ke arah sasaran bandul berjarak kurang lebih 30 meter dari tempat duduknya. Hampir bersamaan pula mereka lalu menarik busur sembari fokus konsentrasi dan menata nafas. Sesaat kemudian, berhamburanlah anak panah melesat menuju sasaran.

Jika ada yang berhasil menancap pada bandul sasaran, gong pun berbunyi. Sorak sorai dan komentar jenaka lalu bersahutan dari para penonton yang turut gembira menyaksikan. Sungguh sebuah keasyikan tersendiri yang dibuat oleh Paseduluran Jemparingan Mataram Jawi Langenastro Ngayogyakarto ini.

Agung Sumedi, Bapak berusia 49 tahun dan tokoh panahan tradisional Yogyakarta menuturkan bahwa komunitas Paseduluran Jemparingan Langenastro adalah kegiatan yang memadukan unsur meditasi, silaturahmi dan pengembangan tujuan wisata wilayah Jeron Beteng Yogyakarta.

Menurut Hafizh Priyotomo, tokoh muda penggerak, Jemparingan Mataram memiliki filosofi mendalam. Memanah adalah sunnah dan perintah dari Rasulullah SAW yang mengandung ajaran kepribadian. Bagi orang Jawa, “Manah” itu memiliki arti berpikir dengan menggunakan atau menyertakan rasa hati.

Olahraga panahan tradisional dengan demikian media berlatih meditatif untuk berpikir dengan hati. Fokus konsentrasi pada titik sasaran dengan iringan nafas yang teratur tenang adalah cara menemukan kemantapan jiwa.

Anak-anak muda Langenastran, Kelurahan Panembahan, Kecamanatan Kraton Yogyakarta sadar akan hal itu. Mereka menjadikan ajang gladen jemparingan sebagai ruang nongkrong silaturahim rutin setiap Rabu Legi. Dari anggota latihan yang hanya 3 orang peserta pada tahun 2012, kini puluhan generasi muda dan tua telah bergabung di paguyuban klangenan (hobi) tersebut.

Dari anak-anak, pelajar, mahasiswa, profesional dan wiraswasta. Belum lagi ditambah ratusan peserta dari Yogyakarta dan luar kota yang memeriahkan “Gladen Ageng” (lomba besar) dalam rangka milad paguyuban setiap tahunnya.

Seiring dengan gerakan sadar wisata, komunitas jemparingan ini pun semakin berbenah mengemas kegiatan-kegiatannya lebih baik. Tujuan mereka hanya ingin mensyiarkan keasyikan berkelompok yang mereka geluti. Tidak yang lain. Contoh saja, kini saat bergiliran memanah, sebagian dari anggota paguyuban berinisiatif menjadi guide bagi para turis atau tamu luar kota untuk lebih mengenal makna event warisan leluhur Mataram itu.

Menarik lagi, di saat perayaan tahun baru 2016 lalu, paguyuban ini melakukan devile budaya di tengah keramaian alun-alun Selatan Yogyakarta. Berpakaian tradisi dan membawa busur serta anak panah, puluhan pemuda itu berbaris dan menari menyedot perhatian para turis dan masyarakat.

Mereka lakukan itu dengan satu semangat, yakni kegembiraan dalam gotong-royong. Sejatinya itulah makna “Istimewa” Ngayogyakarta yang harus dilestarikan melalui perhelatan budaya. Yakni masyarakat Istimewa yang gembira karena budaya tradisi meditatif telah membuat mereka nyaman menjadi diri mereka sendiri. Sekaligus bahagia menjadi bagian dari persaudaraan sesama umat manusia.

LEAVE A REPLY