Memupuk Bakat di Gladhen Jemparingan

Melesatkan anak panah menggunakan busur menuju tepat menancap di sasaran tak semudah yang kita bayangkan. Hari Minggu 03/05/15 dalam rangka tanggap warsa (ulang tahun) Langenastro yang ke III sebuah komunitas Jemparingan, mengadakan lomba Jemparingan atau panahan di lapangan Kamandungan, Alun-Alun Kidul, Yogyakarta.

0
207
Juri sedang menghitung nilai. (foto: KY-Adam)

Koran Yogya – Jemparingan adalah seni budaya olahraga tradisional panahan. Seperti halnya olahraga panahan yang kita kenal, jemparingan juga menggunakan busur (bs. Jawa: gandewo, gendewa) untuk melontarkan anak panah (bs. Jawa: jemparing). Berbeda dengan olahraga panahan yang biasa kita saksikan, jemparingan memiliki beberapa perbedaan yang membuat kegiatan ini menjadi unik dan menarik. Pemanah memanah dengan duduk bersila di tanah, menggunakan pakaian adat jawa surjan dan kebaya, serta sasaran yang digunakan berbeda pada panahan biasanya. Pada Jemparingan ini, menggunakan orang-orangan (bs. Jawa: wong-wongan/bandulan) berbentuk silinder dengan panjang sekitar 30-33 cm dengan diameter 3,0-3,5 cm.

Di acara Gladhen Jemparingan yang diadakan di lapangan Kamandungan, Sasono Hinggil, Alun-alun Kidul, Yogyakarta ini, memperlombakan sebanyak 92 peserta yang dikategorikan menjadi 3 kelompok yakni, senior putra, senior putri, dan junior putra/putri. Tujuan utama dari acara Jemparingan ini adalah menjaring bakat-bakat memanah dengan gaya Jemparingan dan menumbuhkan kembali rasa yang memudar terhadap adat budaya jawa.

Ada 6 komunitas Jemparingan yang ikut memeriahkan acara ini. Untuk mengikuti lomba ini para peserta hanya dipungut biaya pendaftaran sebesar Rp. 20.000,- per orang. “Untuk para peserta junior tidak kami pungut biaya pendaftaran lomba, malah saya beri uang saku karena sebagai penyemangat mereka sebagai generasi penerus Jemparingan ini.” Ujar Bapak Hafiz (48) sebagai tokoh pelopor Jemparingan Langenastro.

Jemparingan ini mempunyai peraturan perhitungan nilai sasaran. Jika terkena sasaran berwarna merah atau sering disebut ndas abang (kepala sasaran yang berwarna merah) akan mendapat nilai 3 dan nilai 1 untuk badan sasaran yang berwarna putih. Selain itu, di perlombaan Jemparingan ini terdapat 20 rambahan (ronde), disetiap ronde para peserta hanya diperbolehkan melontarkan 4 anak panah.

Untuk peserta yang dapat memanah tepat sasaran dan memperoleh jumlah nilai yang paling banyak itulah yang mendapatkan hadiah tropi dan uang pembinaan serta piagam penghargaan. Para peserta yang mendapat juara 1 di Gladhen Jemparingan kali ini adalah Bapak Widodo untuk kategori senior putra, Ibu Supatmi untuk kategori senior putri, dan Mas Diki untuk kategori junior putra/putri. (AIN/AIK)

LEAVE A REPLY