Edgar Freire Gracia – Aktor Independen dan Penari dari Equador

0
529

Seni didasarkan pada prinsip-prinsip kehidupan itu sendiri; seorang aktor adalah pengamat dan pelaku yang sadar. Sebagai seorang seniman profesional, bekerja dalam keindahan, kualitas dan pencarian terus menerus untuk kemungkinan-kemungkinan baru yang terus adalah motivasi saya untuk menemukan relasi yang nyata dengan pemirsa.

Edgar Freire García

Kebangsaan: Ekuador
Tempat Lahir: Quito – Ekuador
Tanggal Lahir: 30-Januari-1982
Umur: 32 tahun
Profesi: Aktor independen dan penari

Sebuah Perjalanan yang Tak Terduga ke Indonesia

Setelah bertahun-tahun mempelajari akting dan baru-baru ini juga mulai mempelajari menari, pencarian saya membawa saya ke bentuk seni tradisional. Saya selalu tertarik dengan seni oriental, tapi di mana saya bisa mendapatkan pengalaman itu? Takdir membawa saya ke Indonesia; setelah saya mendapatkan informasi tentang Program Darmasiswa di negara ini dan mendaftarkan diri untuk mempelajari tarian tradisional meskipun saya tidak tahu di mana saya akan berada. Bagaikan melompat ke dalam sebuah kehampaan.

Setelah satu tahun tinggal di Indonesia semangat saya berubah. Budaya Jawa sangat kuat dan Anda bisa merasakan saat bernafas dalam setiap tindakan. Saya merasakan tarian tradisional Yogyakarta dengan rasa yang berbeda: gagah, halus dan putri; Saya telah mendengar suara halus gamelan, mendapat kejutan dari pentas wayang kulit yang menyihir dan telah menyaksikan ketenangan hati dan kesabaran di dalam pola-pola batik. Setiap praktek tradisional memiliki filosofi di baliknya, filsafat menjadi tindakan, dan tindakan menunjukkan keindahan, keindahan adalah untuk kesabaran ‘manah’; wiraga, wirama, dan wirasa berperan dalam proses kimiawi ini.

Seni Panahan Tradisional: Jemparingan di Langenastro

Suatu hari di bulan Desember, saya diberitahu oleh Pak Donny Megananda tentang kegiatan panahan tradisional yang disebut Jemparingan. Beberapa hari setelah itu, saya mencoba cari tahu tempat yang berlokasi di Jl. Langenastran Kidul sekitar jam 4 sore. Saya hadir dalam sebuah komunitas yang ramah, saya pertama kali bertemu Pak Agung dan Pak Hafiz yang memberi instruksi dan pengenalan pertama mengenai seni jemparingan: bagaimana posisi tubuh yang tepat dan bagaimana cara menarik tali busur. Saya  tidak tahu apa-apa tentang hal itu tetapi dengan kesabaran mereka mengajari saya.

Karena waktu saya tidak bisa kembali hingga Maret ketika saya bergabung secara definitif ke dalam grup ini. Pak Nonon mengajarkan kepada saya mengenai prinsip dan teknik jemparingan, dan setelah beberapa hari akhirnya saya melepaskan panah pertama saya, tentu saja panah saya langsung mengenai sasaran! Tidak, saya hanya bercanda, panah saya bahkan tak mencapai dinding pelindung, tapi ini adalah awal, itu adalah proses yang membutuhkan waktu, dedikasi, kesabaran dan hati. ‘Manah’, kata pak Nonon pada saya,

1) duduk dalam posisi yang benar dan mengatur anak panah,
2) fokus pada target (bandul)
3) bernapas dan menarik talibusur … tunggu! Satu, daa, tiga … lepas!

Setelah lima bulan berlatih saya belajar banyak tidak hanya tentang jemparingan tetapi juga berbagi pengalaman hidup dalam suatu komunitas. Saya telah berhasil menancapkan anak panah pada target (bandul), pada bagian putih dan juga di satu di bagian merah. Ketika saya mendapatkannya hati saya senang, karena untuk saat bersamaan hati saya bisa kosong dan memiliki satu arah tujuan. Saya sangat berterima kasih dari Pak Bimo, Sabam, Nonon, Hafiz, Agung, Yudi … semua orang yang menjadi bagian dari kelompok Langenastro.

Semua ini adalah tentang ‘manah’, tapi ‘manah’ perlu diberi asupan dan dikosongkan pada saat yang sama. Saya meninggalkan negara ini tapi saya membawa bersama saya hal yang berguna, hal-hal yang telah mengisi jiwa saya (dan tentu saja ‘gendewo’ dan satu set panah untuk memperkenalkan kegiatan jemparingan di Ekuador!)

Matur nuwun

(diterjemahkan secara bebas dari catatan singkat Edgar Freire Gracia mengenai pengalamannya mengikuti kegiatan jemparingan – NASKAH ASLI)

DSC_0480b

DSC_0481b

DSC_0482b

DSC_0483b

DSC_0574b

 

 

Naskah Asli:

The art is based on the principles of life itself; an actor is a conscious observer and doer. As a professional artist, the work on the beauty, quality and continuous search for new possibilities is what continually motivates me to find a true connection with viewers.

Nacionality: Ecuadorian
Place of birth: Quito – Ecuador
Date of birth: 30-January-1982
Age: 32 years old
Profession: independent actor and dancer

An Unexpected Traveling to Indonesia

After years of studying acting and recently also dancing, my searching led me to the traditional forms of art. I always have been attracted by the oriental art, but where could I experience it? Destiny took me to Indonesia; after I was noticed about the Darmasiswa Program in this country and I promptly applied for it to study traditional dancing although I had no idea where I was going. It was as a jumping to the emptiness.

After one year living in Indonesia my spirit has changed. The Javanese culture is very strong and you can breathe it in every action. I tasted the Yogyakarta traditional dancing with its different flavours: gagah, halus and putri; I have heard the subtle sound of gamelan, got surprised by the magic wayang kulit and have watched the quiet heart and patience inside the patterns of batik. Each of the traditional practices has a philosophy behind them, philosophy becomes action, and actions shows beauty, beauty is for the patient ‘manah’; wiraga, wirama and wirasa participate in this alchemy.

The Traditional Art of Archery: Jemparingan in Langenastro

One day of December, I was told by Pak Donny Megananda about a traditional archery practice called Jemparingan. Few days after I was going to know this place located in Jl. Langenastran kidul around 4pm. I came upon a friendly community, I first met Pak Agung and Pak Hafiz who gave the first instruction and introduction to the jenparingan art: the right body position and how to pull the bow’s string. I knew nothing about it but with patience they taught me.

Because of time I couldn’t return until March when I joined definitively to this group. Pak Nonon taught me the jemparingan’s principles and technique and after few days I was releasing my first arrow, of course I got on target! No, I’m just kidding, the arrow hardly reached the protector wall, but this is the beginning, it is a process which need time, dedication, patience and heart. ‘Manah’, said me pak Nonon, 1) sit in the correct position and set your arrow (anak panah), 2) focus on the target (bandul) 3) breathe and pull the string… wait! satu, dua, tiga… release!

After five months of practicing I’ve learned a lot not only about jemparingan but also sharing life experiences in a community. I have reached the target, on the white part and also on the red one. When I get it my heart is happy, because for one moment I can be empty and my heart have just one direction and goal. I am very grateful of Pak Bimo, Sabam, Nonon, Hafiz, Agung, Yudi… of everyone who are part of the Langenastro group.

All this is about ‘manah’, but manah needs to be fed and emptied at the same time. I leave this country but I am taking with me necessary things, the things which have fed my spirit (and of course a kendewo and a set of arrows to introduce jemparingan practice in Ecuador!)

Matur nuwun.