Marjuki “Kill the DJ” Ikuti Lomba Jemparing Jawi

0
219
SONY DSC

Jogjanews.com – Paguyuban jemparing mataram Jawi Langenastro dan paguyuban Dewondanu Gandeng Samudra menggelar lomba Jemparingan Tradisional Bandulan di lapangan Langenarjan,Yogyakarta, Rabu, (19/9).

Dalam kegiatan tersebut, puluhan pemanah yang mengenakan surjan, blangkon dan kain itu duduk bersila dan berlomba mengenai bandul sasaran yang digantungkan pada seutas tali. Selain peserta yang rutin mengikuti lomba Jemparing Mataram, tampak juga Marjuki Kill The DJ yang mengaku baru dua bulan bulan menekuni kegiatan “panahan” jawi.

Punggawa Jogja Hiphop Foundation itu menuturkan belajar memanah sejak bulan puasa silam. Seluruh teknik ia pelajari dari para anggota paguyuban Langensastro dan langsung dipraktekan. Menurutnya meski terlihat mudah keahlian memanah ternyata cukup sulit dipelajari dan membutuhkan latihan yang intensif.

“Saya yang terbiasa fitness saja sempat kesusahan saat mencoba menarik busur. Waktu itu sudah bisa manah lurus saja sudah seneng,” ujar Marzuki usai perlombaan Jemparing.

Marjuki mengatakan meski sudah punya niat untuk berlatih memanah, baru diawal Juli lalu dirinya punya kesempatan untuk ikut latihan. Ia menilai kegiatan memanah mempunyai manfaat untuk melatih kesabaran dan konsentrasi.

“Kalau sedang banyak pikiran pasti sulit nembak targetnya. Jadi harus benar-benar memusatkan pikiran,” ujar pemilik nama lengkap Muhammad Marjuki ini.

Marjuki menerangkan, setiap perlombaan seni jemparing Jawi mempunyai peraturan yang cukup baku. Yaitu dalam setiap perlombaan terdiri dari 20 rambahan, dimana setiap rambahan, peserta bisa melepaskan empat anak panah dengan durasi waktu selama lima menit.

Pada setiap perlombaan panitia juga kerap memutar gending-gending jawa. Ceplas-ceplos ‘gojek’ para peserta juga kerap hadir meramaikan acara. Penentuan nilai pemenang adalah peserta yang berhasil mengenai kepala bandul berwarna merah diberikan nilai tiga dan anak panah yang mengenai badan bandul yang berwarna putih memperoleh nilai satu.

Peserta bisa mendapatkan poin tambahan jika memperoleh nilai sandang yang dihitung berdasarkan jumlah anak panah yang mengenai sasaran dalam satu kali rambahan.

Menurutnya saat ini sudah banyak anak muda yang ikut latihan Jemparing Jawi. Selain di Lapangan Langenarjan, latihan dan kompetisi Jemparing Tradisional juga rutin digelar di kampus Universitas Atmajaya Yogyakarta. “Sudah banyak anak muda yang ikut menekuni tradisi ini, termasuk mahasiswa dari kampus-kampus di Jogja,” ujar Marzuki.

LEAVE A REPLY